Aku
akui, mungkin kita pernah berselisih paham. Sering. Mungkin kita pernah bermuka
masam satu sama lain. Pernah. Mungkin kita pernah tak enak hati satu sama lain.
Ya. Dan banyak lagi hal-hal kecil yang membuat aku dan kamu menyimpan sebuah
kesimpulan tentang kita.
Aku
tahu, saat kau sendiri, kau begitu menginginkan kehadiranku. Saat kau butuh
sesuatu, kau ingat padaku. Saat kau punya segudang masalah, kau ingin lari
kearahku. Dan bahkan kau ingin selalu berada disisiku. Suka maupun duka. Aku
tahu.
Mungkin
kau berfikir, Aku jahat, aku tak adil, aku tak mendengarkanmu. Mungkin kau
punya penilaian tersendiri akan sikapku. Ketika kau butuh, aku tak hadir. Ketika
kau menuju kearahku, aku berpaling. Dan kau pun menyimpulkan bahwa aku tak mengerti
perasaanmu. Bahwa aku acuhkan dirimu.
Tapi,
pernahkah dirimu bertanya? Barang sedikitpun? Satu pertanyaanpun? Tentang aku,
tentang kesibukkanku. Tentang hal yang
membuatku menyita urusan pribadiku dengan mengurus itu? Pernahkah
ukhtayya?
Semua
itu tak jadi masalah bagiku, jika itu tidak pernah kau lakukan. Tak apa. Tak kan
kupikirkan. Tak akan ku tuntut keadilanmu. Sekali lagi kutegaskan. Tidak akan. Karena
memang tidak ada celah bagiku untuk memikirkan tentang hakku. Sungguh bagiku
cukup Allah yang tahu. Cukup Allah yang memikirkan perasaanku. Tak perlu kau
bersusah memikirkan tentang perasaanku. Tak perlu.
Namun,
kuharap dirimu dewasa. Jangan seperti anak-anak yang jika ada sesuatu yang
membuatnya tak mood ia langsung ngambek dan berubah. Mari kita berfikir lebih luas lagi. Banyak
yang akan kita fikirkan dibanding hal itu. Bagiku cukup Allah tempat kembali.
Mengadukan segala rasa, segala resah, segala gundah.