Melukis Pelangi

Melukis Pelangi

Minggu, 22 Juni 2014

Menjadi Batu Bata Bangunan Dakwah



By: SA_Muth

Terkadang kita pernah berfikir bahwa keberadaan kita tak punya arti. Ada atau tidak adanya kita tidak akan memberi pengaruh. Bersuara atau tidak bersuaranya kita tetap hasilnya nihil. Tak berarti apa-apa. Bukan tidak mungkin juga kita pernah iri memandang teman sebaya lainnya yang lebih famous. Lebih dikenal. Dan yang lebih didengar. Hal ini seringkali membuat kita patah semangat. Muncul berbagai perasaan malas. Malas datang agenda, malas datang rapat, dan sejenisnya. Alasannya “ah kesana juga tidak ada artinya kok”
Setiap insan adalah unik. Benar. Siapa saja ingin dihargai dan dianggap. Betul. Dan setiap insan punya khilaf. Sepakat. Namun sebelum kita jauh membahas hal itu terlalu dalam, mari kita luruskan niat kembali. Kita disini untuk siapa? Kita disini untuk apa? Dan atas dasar apa. Jika itu semua sudah bisa kita jawab maka tidak akan ada permasalahan semacam diatas.
Terkadang niat kita berada dijalan ini belum lurus. Hal itulah yang membuat pijakan kita tidak kuat. Ana geram mendengar seorang kader berkeluh kesah seperti itu. Hei! Sadarkah antum, ada atau tidak adanya antum dakwah ini akan terus berjalan. Karena allah telah siapkan mujahid-mujahidNya untuk melakoni cerita ini. Pertanyaannya “ apakah antum tidak akan mengambil bagian daripadanya?”
Apakah antum mau antum hanya bisa melongo saja ketika saudara yang lainnya berjuang dalam jalan ini? Apakah antum mau menjadi “penikmat” saja ketika yang lain “berjuang”. Mari Tanya hati masing-masing.
“ Ana belum punya ilmu yang cukup untuk itu,”. Alasan klasik. Jika sadar belum punya ilmu yang cukup untuk itu paksa diri untuk mencarinya. Jika tidak ada usaha maka tidak ada hasil. Hukum sebab-akibat kawan. Jika menunggu ilmu cukup dulu, lantas kapan mau berbagi? Padahal ilmu itu walaupun sedikit jika dibagi maka ia akan semakin kuat di ingatan. Tetapi jika kita hanya menumpuk ilmu tanpa membaginya dengan yang lain maka ia akan lebih cepat hilang.
Jika menunggu antum menumpuk ilmu dulu lalu mengajak dan membaginya pada yang lain, maka dunia ini keburu kiamat kawan! Mari belajar sambil berbagi.
Coba lihat bangunan nan indah diseberang sana. Cantik kan? Pondasinya kokoh. Sampai keatasnya kuat sekali. Ia berdiri begitu gagahnya. Sekarang coba bayangkan jika salah satu dari batu bata yang tersusun rapi itu berfikir “ wah sepertinya belum pantas nih disini. Tunggu dikit lagi lah. Dibakar lagi dan lagi setelah kuat baru bergabung disini”. “ ah malas, yang lain aja kayak gitu”. Maka bangunan nan indah itu tidak akan berdiri sekokoh itu. Atau ia tidak akan pernah berdiri karena menunggu batu bata yang lain bergabung. Karena kerja ini harus amal jama’i. Tetapi batu bata yang kurang sempurna atau yang kurang kuat itu tetap bergabung. Maka ada semen yang akan menguatkan.
Begitu juga kita. Disini bukan jama’ah malaikat. Dimana personilnya adalah seorang yang mendapat prediket sempurna. BUKAN. Di jama’ah itu banyak kekurangan. Jangan merasa minder, tidak pantas dan segala macam lainnya. Insya allah ada semen yang akan meeratkan pegangan kita sehingga bisa berdiri dengan gagahnya. Semen itu bernama UKHUWAH.
Dan satu batang sapu lidi itu tidak akan bisa menyapu banyak sampah kawan. Tetapi dengan seikat sapu lidi, sampah mana yang tidak bisa disapu?
Masalah ilmu dan pengetahuan, mari kita cari bersama. Paksa diri untuk mencari, membaca untuk menambah tsaqofah kita.
Allahualam bishawab.
(-_-)

Selasa, 17 Juni 2014

Judul kita apa??

Mungkin kita hanya sekedar makin sering terlambat.
Mungkin kita juga sekedar sering lupa. Atau cuma sedikit
bertambah lalai. Atau mungkin cuma sekedar makin enteng
untuk tidak terlibat. Bisa juga semacam ketenangan
dalam kealpaan.

Dan tentu kita tidak menyebutnya sebagai Futur….
bisa jadi, kita cuma sedikit malas. Di mana dengannya,
dalih kita menjadi agak banyak dan bervariasi. Atau kita
hanya semacam sedikit pilih - pilih tugas.
Ada agak banyak tugas yang kita rasa sudah tidak pantas (lagi) kita kerjakan.
Dan kita juga tidak menyebutnya sebagai Futur….

Mungkin kita cuma sedikit terganggu.
Kita haya sedikit agak terganggu dalam tilawah, atau dalam puasa atau mungkin lainnya.
Sebenarnya tidak berat, cuma sekedar agak sulit menikmatinya.
Dan kita memang sulit mendefenisikannya sebagai Futur….

Kita mungkin cuma semacam bosan. Atau sekedar ingin melongokkan kepala keluar sana.
Atau kita cuma kaget kecil - kecilan. Atau sedikit silau. Atau bahkan, sedikit lebih ringan daripada itu.
Dan sulit bagi kita untuk menyebutnya Futur….

Atau kita cuma sedikit tersadarkan. Pada realitas keluarga kita. Anak dan isteri kita.
Rumah dan keluarga kita. Atau sedikit menghitung - hitung realitas sosial kita.
Dan tentu saja itu buka Futur….

Bisa juga kita cuma sekedar melihat tikungan sejarah. Ada Yang berbeda didepan sana.
Dan semacam sedang sedikit membuat apresiasi. Atau (paling tidak) semacam antisipasi. Tidak lebih dari itu.
(Mungkin) itu juga bukan Futur….


Dari buku " Sudahkah kita tarbiyah? "
Karya Eko Novianto

subhanallahu.. sangat menyentak... yuk berbagi dg yang lain juga sob ... :)

Senin, 16 Juni 2014

Aku Juga Punya Impian!



Oleh : SA_Muth

Assalamu'alaikum sob, ini adalah salah satu tulisan antologi pertamaku.. :) semoga bermanfaat :)

Dari sudut kamarku yang sunyi, izinkan aku menumpahkan secuil pengalaman yang insya allah menginspirasimu sahabat.
Suatu sore,
Angin disore ini semakin berhembus sepoi, membelai lembut wajahku. Aku masih duduk di pondok kecil yang berada ditepian pematang sawah. Sore ini wajahku sepertinya lebih tua dari umurku yang sebenarnya. Tidak ada senyuman renyah seperti biasa yang sering singgah dibibirku, dan tidak ada sinaran seperti biasa diwajah ini. Tepatnya setelah pasca kelulusanku dan kakak dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Lubuk Basung. Aku tidak sendiri, disampingku ada kakak yang masih dengan pikirannya. Disamping kakak, ada ibu dengan posisi kepala beliau bersandar ke tonggak pondok kecil itu. Beberapa meter dari kami ada ayahku yang semangat memperbaiki pematang sawah yang mulai rubuh karena orang sering lewat disana.
“ Ibu ingin kalian kuliah keduanya,” ucap ibu dengan suara sedikit berat yang langsung ditangkap oleh pendengaranku dan mataku mulai berkaca. Begitu juga kakakku.
Aku mengerti makna suara berat dari ibu. Dengan kondisi kami sekarang, wajar kedua orangtuaku kewalahan mencari dana untuk sekolah kami. Aku bersaudara tujuh orang. Aku dan kakak sekarang baru lulus SMK. Dibawahku ada adik yang nomor tiga dan empat duduk dikelas dua SMP. Dan tiga orang lagi masih duduk dibangku SD. Semuanya sekolah, dengan kondisi ditanggung ayahku yang hanya seorang petani. Terkadang kami mendapatkan bantuan beasiswa dari sekolah.
Sebenarnya aku dan kakak tidak muluk-muluk meminta untuk kuliah. Tidak. Aku ingin bekerja, membantu meringankan beban beliau. Namun, tanpa kami ketahui ternyata ibu mengumpulkan uang sisa-sisa belanja dipasar yang bisa dihitung jari ibu lakukan. Jangan sekali-kali kalian bandingkan dengan ibu tetangga samping rumahku. Setiap pekan selalu tampak kepasar dan pulang dengan bawaan banyak ditangannya. Biasanya jika melihat ibu tetangga pulang dari pasar, aku akan mendapatkan pertanyaan dari sibungsu.
Uni*, ibu tidak kepasar?,” tanyanya polos.
Aku memandangi sibungsu kemudian mengelus kepalanya.
“ Insya allah pekan depan dek,” ucapku yang langsung di aminkan oleh hatiku.
Ya, setiap hari kami makan dengan sambal seadanya. Yang terdiri dari tumbuh-tumbuhan sekeliling rumah yang ditanami oleh ibu. Tidak jarang kami ditemani dengan kerupuk pinokio. Atau nasi bertemankan garam juga pernah. Semua sudah biasa kami lalui. Asalkan ada nasi, insya allah ada saja teman untuk melahapnya. Ayah pernah berkata kepada kami, saat sibungsu merengek untuk dibelikan televisi. Alasannya susah jika harus pergi kerumah tetangga untuk menonton.
“ Kalian tidak butuh televisi, tetapi ilmu. Baik ilmu dunia maupun akhirat. Teruslah rajin belajar. Raih prestasi. Insya allah ayah akan bekerja keras mencari uang untuk menyekolahkan kalian. Ayah dan ibumu tidak ingin meninggalkan kalian berlimpahan harta tetapi miskin ilmu dan pengetahuan agama. Kami juga tidak ingin kalian seperti kami. Kami ingin kalian lebih dari kami,”
Dengan uang sisa yang dikumpulkan oleh ibu membuatku bisa mendaftar ikut seleksi PMDK Universitas Negeri Padang. Sekarang menunggu hasilnya keluar. Aku bukannya pesimis tidak lulus. Aku juga bukan tidak punya impian kawan. Aku punya impian seperti kalian. Bisa kuliah, bisa menyaksikan satu persatu impian kalian tercapai. Bisa menjadi seseorang yang kalian inginkan. Begitu juga aku, aku ingin menjadi dosen. Silahkan kalian tertawa seperti halnya orang dikampungku.
“ Mana mungkin kamu bisa menyekolahkan anakmu sampai kuliah, marni. Sekali-kali ngaca donk! Sudahlah. Kamu berhenti saja berkhayal ingin melihat anakmu memakai baju dinas. Tidak tahu di untung! Sudah miskin punya cita-cita setinggi langit pula kamu. Hati-hati tacabuak mato, mancaliak tu jan ka ateh!*,”
Saat itu kami langsung naik pitam saat mendengar cerita dari ibu. Rasanya ingin menampar mulut orang yang berbicara selancang itu kepada ibu. Kejam. Tetapi apakah kalian tahu reaksi ibu? Subhanallahu, ibu menceritakan itu dengan tenang dan tak lupa membubuhkan senyuman diakhir ucapannya. Kami menjadi malu kepada ibu.
Aku bersyukur memiliki seorang ibu seperti ibuku. Aku bangga memiliki ibu seperti ibuku, dalam keadaan serba kekurangan seperti itu beliau masih sempat menyisihkan sedikit-demi sedikit uang untuk biaya pendaftaran PMDK ku. Namun permasalahannya sekarang adalah kakakku mesti kuliah juga. Sedangkan ayahku tidak bisa dihadapkan kepada keadaan yang membuat beliau berfikir lebih keras lagi dari ini. Maka jadilah ibuku kembali mengeluarkan ide briliannya. Aku lulus PMDK di Universitas Negeri Padang dan Alhamdulillah aku lulus beasiswa dikampungku. Aku dibiayai sampai wisuda. Ibuku terpaksa harus berhemat lagi dalam keadaan keluargaku yang sangat hemat. Beliau ikut arisan ibu-ibu dikampung untuk bisa membiayai kakakku kuliah. Kakakku kuliah tidak ada dikomunikasikan pada ayah. Kata ibu nanti ayahku pusing. Subhanallahu, tentu kalian tahu sepusing apakah ibuku dalam keadaan seperti itu beliau kendalikan sendiri. Setelah tiga semester kakakku menjadi staf pengajar PAUD barulah dikomunikasikan pada ayah bahwa kakak kuliah. Alhamdulillah ayah tidak shok atau mengalami sejenisnya. Bayangkan selama tiga semester ibu menyimpannya sendiri, dan sampai sekarangpun ibuku masih mengusahakan sendiri biaya kuliah kakak yang jumlahnya dua kali lipat dibandingkanku.
Tanpa kami sadari ternyata aku dan kakak sudah jalan delapan semester. Subhanallahu berarti sebentar lagi aku diwisuda. Insya allah. Aku akan mencari beasiswa agar tidak membebani ibu dan ayah lagi. Seperti ku tuliskan diatas bahwa aku ingin menjadi dosen. Aku akan melanjutkan studiku di Universitas Pendidikan Indonesia atau Universitas Teknologi Malaysia. Insya allah jika izin-Nya. Ya, kalian semua boleh tertawa ataupun kembali berkata “tidak mungkin”. Tetapi jangan sampai lupa jika allah sudah berkata “jadi” maka “jadilah ia”. Insya allah. Sampai jumpa dipuncak kesuksesan kawan.
***
Padang, 1 Mei 2014
NB:
* Hati-hati tacabuak mato, mancaliak tu jan ka ateh : hati-hati kelilipan mata, melihat itu jangan ke atas.
* Uni : Kakak perempuan