By: SA_Muth
Terkadang
kita pernah berfikir bahwa keberadaan kita tak punya arti. Ada atau tidak
adanya kita tidak akan memberi pengaruh. Bersuara atau tidak bersuaranya kita
tetap hasilnya nihil. Tak berarti apa-apa. Bukan tidak mungkin juga kita pernah
iri memandang teman sebaya lainnya yang lebih famous. Lebih dikenal. Dan yang lebih didengar. Hal ini seringkali
membuat kita patah semangat. Muncul berbagai perasaan malas. Malas datang
agenda, malas datang rapat, dan sejenisnya. Alasannya “ah kesana juga tidak ada
artinya kok”
Setiap
insan adalah unik. Benar. Siapa saja ingin dihargai dan dianggap. Betul. Dan
setiap insan punya khilaf. Sepakat. Namun sebelum kita jauh membahas hal itu
terlalu dalam, mari kita luruskan niat kembali. Kita disini untuk siapa? Kita
disini untuk apa? Dan atas dasar apa. Jika itu semua sudah bisa kita jawab maka
tidak akan ada permasalahan semacam diatas.
Terkadang
niat kita berada dijalan ini belum lurus. Hal itulah yang membuat pijakan kita
tidak kuat. Ana geram mendengar seorang kader berkeluh kesah seperti itu. Hei!
Sadarkah antum, ada atau tidak adanya antum dakwah ini akan terus berjalan.
Karena allah telah siapkan mujahid-mujahidNya untuk melakoni cerita ini.
Pertanyaannya “ apakah antum tidak akan mengambil bagian daripadanya?”
Apakah
antum mau antum hanya bisa melongo saja ketika saudara yang lainnya berjuang
dalam jalan ini? Apakah antum mau menjadi “penikmat” saja ketika yang lain
“berjuang”. Mari Tanya hati masing-masing.
“
Ana belum punya ilmu yang cukup untuk itu,”. Alasan klasik. Jika sadar belum
punya ilmu yang cukup untuk itu paksa diri untuk mencarinya. Jika tidak ada
usaha maka tidak ada hasil. Hukum sebab-akibat kawan. Jika menunggu ilmu cukup
dulu, lantas kapan mau berbagi? Padahal ilmu itu walaupun sedikit jika dibagi
maka ia akan semakin kuat di ingatan. Tetapi jika kita hanya menumpuk ilmu
tanpa membaginya dengan yang lain maka ia akan lebih cepat hilang.
Jika
menunggu antum menumpuk ilmu dulu lalu mengajak dan membaginya pada yang lain,
maka dunia ini keburu kiamat kawan! Mari belajar sambil berbagi.
Coba
lihat bangunan nan indah diseberang sana. Cantik kan? Pondasinya kokoh. Sampai
keatasnya kuat sekali. Ia berdiri begitu gagahnya. Sekarang coba bayangkan jika
salah satu dari batu bata yang tersusun rapi itu berfikir “ wah sepertinya
belum pantas nih disini. Tunggu dikit lagi lah. Dibakar lagi dan lagi setelah
kuat baru bergabung disini”. “ ah malas, yang lain aja kayak gitu”. Maka
bangunan nan indah itu tidak akan berdiri sekokoh itu. Atau ia tidak akan
pernah berdiri karena menunggu batu bata yang lain bergabung. Karena kerja ini
harus amal jama’i. Tetapi batu bata
yang kurang sempurna atau yang kurang kuat itu tetap bergabung. Maka ada semen
yang akan menguatkan.
Begitu
juga kita. Disini bukan jama’ah malaikat. Dimana personilnya adalah seorang
yang mendapat prediket sempurna. BUKAN. Di jama’ah itu banyak kekurangan.
Jangan merasa minder, tidak pantas dan segala macam lainnya. Insya allah ada
semen yang akan meeratkan pegangan kita sehingga bisa berdiri dengan gagahnya.
Semen itu bernama UKHUWAH.
Dan
satu batang sapu lidi itu tidak akan bisa menyapu banyak sampah kawan. Tetapi
dengan seikat sapu lidi, sampah mana yang tidak bisa disapu?
Masalah
ilmu dan pengetahuan, mari kita cari bersama. Paksa diri untuk mencari, membaca
untuk menambah tsaqofah kita.
Allahualam
bishawab.
(-_-)