Oleh
: SA_Muth
Assalamu'alaikum sob, ini adalah salah satu tulisan antologi pertamaku.. :) semoga bermanfaat :)
Dari
sudut kamarku yang sunyi, izinkan aku menumpahkan secuil pengalaman yang insya
allah menginspirasimu sahabat.
Suatu
sore,
Angin
disore ini semakin berhembus sepoi, membelai lembut wajahku. Aku masih duduk di
pondok kecil yang berada ditepian pematang sawah. Sore ini wajahku sepertinya
lebih tua dari umurku yang sebenarnya. Tidak ada senyuman renyah seperti biasa
yang sering singgah dibibirku, dan tidak ada sinaran seperti biasa diwajah ini.
Tepatnya setelah pasca kelulusanku dan kakak dari Sekolah Menengah Kejuruan
Negeri 1 Lubuk Basung. Aku tidak sendiri, disampingku ada kakak yang masih dengan
pikirannya. Disamping kakak, ada ibu dengan posisi kepala beliau bersandar ke
tonggak pondok kecil itu. Beberapa meter dari kami ada ayahku yang semangat
memperbaiki pematang sawah yang mulai rubuh karena orang sering lewat disana.
“
Ibu ingin kalian kuliah keduanya,” ucap ibu dengan suara sedikit berat yang
langsung ditangkap oleh pendengaranku dan mataku mulai berkaca. Begitu juga
kakakku.
Aku
mengerti makna suara berat dari ibu. Dengan kondisi kami sekarang, wajar kedua
orangtuaku kewalahan mencari dana untuk sekolah kami. Aku bersaudara tujuh
orang. Aku dan kakak sekarang baru lulus SMK. Dibawahku ada adik yang nomor tiga
dan empat duduk dikelas dua SMP. Dan tiga orang lagi masih duduk dibangku SD. Semuanya
sekolah, dengan kondisi ditanggung ayahku yang hanya seorang petani. Terkadang
kami mendapatkan bantuan beasiswa dari sekolah.
Sebenarnya
aku dan kakak tidak muluk-muluk meminta untuk kuliah. Tidak. Aku ingin bekerja,
membantu meringankan beban beliau. Namun, tanpa kami ketahui ternyata ibu
mengumpulkan uang sisa-sisa belanja dipasar yang bisa dihitung jari ibu lakukan.
Jangan sekali-kali kalian bandingkan dengan ibu tetangga samping rumahku.
Setiap pekan selalu tampak kepasar dan pulang dengan bawaan banyak ditangannya.
Biasanya jika melihat ibu tetangga pulang dari pasar, aku akan mendapatkan
pertanyaan dari sibungsu.
“
Uni*, ibu tidak kepasar?,” tanyanya
polos.
Aku
memandangi sibungsu kemudian mengelus kepalanya.
“
Insya allah pekan depan dek,” ucapku yang langsung di aminkan oleh hatiku.
Ya,
setiap hari kami makan dengan sambal seadanya. Yang terdiri dari
tumbuh-tumbuhan sekeliling rumah yang ditanami oleh ibu. Tidak jarang kami
ditemani dengan kerupuk pinokio. Atau nasi bertemankan garam juga pernah. Semua
sudah biasa kami lalui. Asalkan ada nasi, insya allah ada saja teman untuk
melahapnya. Ayah pernah berkata kepada kami, saat sibungsu merengek untuk
dibelikan televisi. Alasannya susah jika harus pergi kerumah tetangga untuk
menonton.
“
Kalian tidak butuh televisi, tetapi ilmu. Baik ilmu dunia maupun akhirat. Teruslah
rajin belajar. Raih prestasi. Insya allah ayah akan bekerja keras mencari uang
untuk menyekolahkan kalian. Ayah dan ibumu tidak ingin meninggalkan kalian
berlimpahan harta tetapi miskin ilmu dan pengetahuan agama. Kami juga tidak
ingin kalian seperti kami. Kami ingin kalian lebih dari kami,”
Dengan
uang sisa yang dikumpulkan oleh ibu membuatku bisa mendaftar ikut seleksi PMDK
Universitas Negeri Padang. Sekarang menunggu hasilnya keluar. Aku bukannya
pesimis tidak lulus. Aku juga bukan tidak punya impian kawan. Aku punya impian
seperti kalian. Bisa kuliah, bisa menyaksikan satu persatu impian kalian
tercapai. Bisa menjadi seseorang yang kalian inginkan. Begitu juga aku, aku
ingin menjadi dosen. Silahkan kalian tertawa seperti halnya orang dikampungku.
“
Mana mungkin kamu bisa menyekolahkan anakmu sampai kuliah, marni. Sekali-kali ngaca donk! Sudahlah. Kamu berhenti saja
berkhayal ingin melihat anakmu memakai baju dinas. Tidak tahu di untung! Sudah
miskin punya cita-cita setinggi langit pula kamu. Hati-hati tacabuak mato, mancaliak tu jan ka ateh!*,”
Saat
itu kami langsung naik pitam saat mendengar cerita dari ibu. Rasanya ingin
menampar mulut orang yang berbicara selancang itu kepada ibu. Kejam. Tetapi
apakah kalian tahu reaksi ibu? Subhanallahu, ibu menceritakan itu dengan tenang
dan tak lupa membubuhkan senyuman diakhir ucapannya. Kami menjadi malu kepada
ibu.
Aku
bersyukur memiliki seorang ibu seperti ibuku. Aku bangga memiliki ibu seperti
ibuku, dalam keadaan serba kekurangan seperti itu beliau masih sempat menyisihkan
sedikit-demi sedikit uang untuk biaya pendaftaran PMDK ku. Namun
permasalahannya sekarang adalah kakakku mesti kuliah juga. Sedangkan ayahku
tidak bisa dihadapkan kepada keadaan yang membuat beliau berfikir lebih keras
lagi dari ini. Maka jadilah ibuku kembali mengeluarkan ide briliannya. Aku
lulus PMDK di Universitas Negeri Padang dan Alhamdulillah aku lulus beasiswa
dikampungku. Aku dibiayai sampai wisuda. Ibuku terpaksa harus berhemat lagi
dalam keadaan keluargaku yang sangat hemat. Beliau ikut arisan ibu-ibu
dikampung untuk bisa membiayai kakakku kuliah. Kakakku kuliah tidak ada
dikomunikasikan pada ayah. Kata ibu nanti ayahku pusing. Subhanallahu, tentu
kalian tahu sepusing apakah ibuku dalam keadaan seperti itu beliau kendalikan
sendiri. Setelah tiga semester kakakku menjadi staf pengajar PAUD barulah
dikomunikasikan pada ayah bahwa kakak kuliah. Alhamdulillah ayah tidak shok
atau mengalami sejenisnya. Bayangkan selama tiga semester ibu menyimpannya
sendiri, dan sampai sekarangpun ibuku masih mengusahakan sendiri biaya kuliah
kakak yang jumlahnya dua kali lipat dibandingkanku.
Tanpa
kami sadari ternyata aku dan kakak sudah jalan delapan semester. Subhanallahu
berarti sebentar lagi aku diwisuda. Insya allah. Aku akan mencari beasiswa agar
tidak membebani ibu dan ayah lagi. Seperti ku tuliskan diatas bahwa aku ingin
menjadi dosen. Aku akan melanjutkan studiku di Universitas Pendidikan Indonesia
atau Universitas Teknologi Malaysia. Insya allah jika izin-Nya. Ya, kalian
semua boleh tertawa ataupun kembali berkata “tidak mungkin”. Tetapi jangan
sampai lupa jika allah sudah berkata “jadi” maka “jadilah ia”. Insya allah.
Sampai jumpa dipuncak kesuksesan kawan.
***
Padang, 1 Mei
2014
NB:
* Hati-hati tacabuak mato,
mancaliak tu jan ka ateh : hati-hati kelilipan mata, melihat itu jangan ke
atas.
* Uni : Kakak perempuan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar