Suasana dulu,
dengan suasana sekarang tentu berbeda,
Aku tahu, aku
paham, tapi aku rindu.
Orang dulu,
dengan orang sekarang tentu berbeda,
Aku tahu, aku
paham, tapi aku rindu.
Kebiasaan,
dulu, dengan kebiasaan sekarang tentu berbeda,
Aku tahu, aku
paham, tapi aku rindu.
Tantangan
dulu, dengan tantangan sekarang tentu berbeda,
Aku tahu, aku
paham, tapi aku rindu.
Aku rindu
wahai ukhti.
Aku rindu.
Harus
bagaimana aku melukiskan perasaan ini.
Aku tidak
bisa, tanganku kaku, pensilku jatuh, dan kertasku berterbangan.
Aku rindu, aku
rindu, aku rindu.
Aku rindu
suasana dulu.
Aku rindu
orang dulu.
Aku rindu
kebiasaan dulu.
Aku rindu
merindu wahai ukhti.
Tahukah
kalian, akhir-akhir ini perasaan merindu itu menyiksaku.
Menyiksa
perhatian fokusku.
Menyiksa hati
kecilku.
Menyiksa
batinku yang selalu saja merindu.
Wahai ukhti,
Akhir-akhir
ini aku sering mengulang episode lama.
Mengutak-atik
kenangan lama.
Membongkar
kenangan yang jauh tersimpan di folder rahasia hati.
Aku merindu
karena Allah wahai saudari seimanku.
Kita bertemu
karena Allah, dan berpisahpun karena-Nya.
Berpisah
lahir, namun tentu saja tidak dengan batin.
Selama kita
bersama melukis kenangan itu jika ada pensil yang patah ataupun kertas yang
robek karenaku, aku mohon ma’afkanlah.
Karena aku baru
pandai melukiskan kenangan.
“ Suatu hari nanti,
saat semua telah menjadi masa lalu aku ingin berada diantara mereka yang
bercerita tentang perjuangan yang indah dimana kita sang pejuang itu sendiri.
Tak pernah kehabisan energi untuk terus bergerak meski terkadang godaan tuk
berhenti atau bahkan berpaling arah begitu menggiurkan. Keep istiqomah!,”
| Add caption |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar