Melukis Pelangi

Melukis Pelangi

Rabu, 03 September 2014

AKU RINDU


 



Suasana dulu, dengan suasana sekarang tentu berbeda,
Aku tahu, aku paham, tapi aku rindu.
Orang dulu, dengan orang sekarang tentu berbeda,
Aku tahu, aku paham, tapi aku rindu.
Kebiasaan, dulu, dengan kebiasaan sekarang tentu berbeda,
Aku tahu, aku paham, tapi aku rindu.
Tantangan dulu, dengan tantangan sekarang tentu berbeda,
Aku tahu, aku paham, tapi aku rindu.

Aku rindu wahai ukhti.
Aku rindu.
Harus bagaimana aku melukiskan perasaan ini.
Aku tidak bisa, tanganku kaku, pensilku jatuh, dan kertasku berterbangan.
Aku rindu, aku rindu, aku rindu.

Aku rindu suasana dulu.
Aku rindu orang dulu.
Aku rindu kebiasaan dulu.
Aku rindu merindu wahai ukhti.

Tahukah kalian, akhir-akhir ini perasaan merindu itu menyiksaku.
Menyiksa perhatian fokusku.
Menyiksa hati kecilku.
Menyiksa batinku yang selalu saja merindu.

Wahai ukhti,
Akhir-akhir ini aku sering mengulang episode lama.
Mengutak-atik kenangan lama.
Membongkar kenangan yang jauh tersimpan di folder rahasia hati.

Aku merindu karena Allah wahai saudari seimanku.
Kita bertemu karena Allah, dan berpisahpun karena-Nya.
Berpisah lahir, namun tentu saja tidak dengan batin.
Selama kita bersama melukis kenangan itu jika ada pensil yang patah ataupun kertas yang robek karenaku, aku mohon ma’afkanlah.
Karena aku baru pandai melukiskan kenangan.

“ Suatu hari nanti, saat semua telah menjadi masa lalu aku ingin berada diantara mereka yang bercerita tentang perjuangan yang indah dimana kita sang pejuang itu sendiri. Tak pernah kehabisan energi untuk terus bergerak meski terkadang godaan tuk berhenti atau bahkan berpaling arah begitu menggiurkan. Keep istiqomah!,”
Add caption

Tidak ada komentar:

Posting Komentar