Melukis Pelangi

Melukis Pelangi

Rabu, 06 Februari 2013

Nostalgia



Oleh : Siska A. Muthmainnah


“ Eh riri! “ sapaku lumayan histeris. Karena tak menduga akan bertemu teman lama diatas travel yang aku tumpangi tersebut.
“ Siska kironyo, pai kama siska? “ jawabnya plus bertanya balik yang lumayan histeris juga.
“ ke Hotel Parai, ri. Ri kama?”
“ ke bukit, kuliah. Lah semester bara siska?”
“ nio masuak semester VI ri, riri? “
“ ri baru semester II baru. Manga siska kesitu?”
“ ado acara beasiswa. oy ri, samsul lah semester bara yo? nyo jurusan Pgsd kan?”
“ iyo, samsul lah semester III “
...
Cerita nostalgia pun berlanjut panjang lebar, berkelok-kelok, dan lumayan terjal seperti jalan yang aku tempuh sekarang menuju Hotel Parai. Hmm siapa sangka akan bertemu riri diatas travel itu. Riri, Si juara kelas saat kami masih duduk dikelas satu dan dua SMK. Kenapa hanya satu dan dua? Karena saat kelas tiga SMK kami pisah kelas. Dan jadilah aku si juara kelasnya. Alhamdulillah lumayan untuk membuat orangtua tambah semangat mencari uang untuk menyekolahkan kami. Lalu siapa samsul? hmm samsul dengan tubuh khasnya yang lumayan tinggi dan kurus itu termasuk tiga besar dikelas saat kelas satu dan dua. Ya cuma sampai satu dan dua juga karena kelas tiganya dia bersama riri, sedangkan aku sendirian. Huhu! Mereka juga masih tiga besar dikelas sebelah.
Kami sama-sama lulus SMK ditahun yang sama, namun keadaan membuat kami berbeda tahun masuk kuliahnya dan universitas yang berbeda juga. Menjalani hidup masing-masing. Ya mungkin itu kata yang cocok untuk keadaan saat itu. Aku setelah lulus SMK kebetulan mengikuti tes PMDK dan alhamdulillah lulus. Jadilah aku melanjutkan kuliah lebih dulu dari mereka. Riri, karena keadaan membuat dia harus bekerja dulu selama 2 tahun untuk melanjutkan pendidikannya. Sedangkan Samsul, sama dengan riri. Bekerja dulu baru melanjutkan pendidikannya. Bedanya Samsul lebih dulu masuk kuliah daripada Riri.
Kami bertiga mempunyai pengalaman yang berbeda-beda. Aku kagum melihat dua temanku itu. Tentu mereka sudah mempunyai pengalaman tentang dunia kerja. Hmm sedangkan aku belum. Begitu semangatnya menjalani hidup untuk bisa melanjutkan pendidikan. Satu pelajaran yang bisa kupetik pada kisah hidupku dan hidup mereka kali ini, bahwa pendidikan itu penting sis!
Sebagaimana yang pernah kita dengar, “tuntutlah ilmu dari ayunan sampai keliang lahat”. Gak kenal umur. Atau “tuntutlah ilmu sampai kenegeri cina”. Selagi masih sehat, masih ada kesempatan, dan ada rezeki jangan malas untuk belajar ( cc adik-adik 5 mutiara hati yang ada di Lubas, tetap semangat belajar!). Aku pernah dengar “ Berilmu dulu baru beramal!”. Karena amalan tanpa ilmu tak ada gunanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar