Oleh : Siska A. Muthmainnah
“ Eh riri! “
sapaku lumayan histeris. Karena tak menduga akan bertemu teman lama diatas
travel yang aku tumpangi tersebut.
“ Siska kironyo,
pai kama siska? “ jawabnya plus bertanya balik yang lumayan histeris juga.
“ ke Hotel
Parai, ri. Ri kama?”
“ ke bukit,
kuliah. Lah semester bara siska?”
“ nio masuak
semester VI ri, riri? “
“ ri baru
semester II baru. Manga siska kesitu?”
“ ado acara
beasiswa. oy ri, samsul lah semester bara yo? nyo jurusan Pgsd kan?”
“ iyo, samsul
lah semester III “
...
Cerita
nostalgia pun berlanjut panjang lebar, berkelok-kelok, dan lumayan terjal
seperti jalan yang aku tempuh sekarang menuju Hotel Parai. Hmm siapa sangka
akan bertemu riri diatas travel itu. Riri, Si juara kelas saat kami masih duduk
dikelas satu dan dua SMK. Kenapa hanya satu dan dua? Karena saat kelas tiga SMK
kami pisah kelas. Dan jadilah aku si juara kelasnya. Alhamdulillah lumayan
untuk membuat orangtua tambah semangat mencari uang untuk menyekolahkan kami.
Lalu siapa samsul? hmm samsul dengan tubuh khasnya yang lumayan tinggi dan
kurus itu termasuk tiga besar dikelas saat kelas satu dan dua. Ya cuma sampai
satu dan dua juga karena kelas tiganya dia bersama riri, sedangkan aku sendirian.
Huhu! Mereka juga masih tiga besar dikelas sebelah.
Kami
sama-sama lulus SMK ditahun yang sama, namun keadaan membuat kami berbeda tahun
masuk kuliahnya dan universitas yang berbeda juga. Menjalani hidup
masing-masing. Ya mungkin itu kata yang cocok untuk keadaan saat itu. Aku
setelah lulus SMK kebetulan mengikuti tes PMDK dan alhamdulillah lulus. Jadilah
aku melanjutkan kuliah lebih dulu dari mereka. Riri, karena keadaan membuat dia
harus bekerja dulu selama 2 tahun untuk melanjutkan pendidikannya. Sedangkan
Samsul, sama dengan riri. Bekerja dulu baru melanjutkan pendidikannya. Bedanya
Samsul lebih dulu masuk kuliah daripada Riri.
Kami
bertiga mempunyai pengalaman yang berbeda-beda. Aku kagum melihat dua temanku
itu. Tentu mereka sudah mempunyai pengalaman tentang dunia kerja. Hmm sedangkan
aku belum. Begitu semangatnya menjalani hidup untuk bisa melanjutkan
pendidikan. Satu pelajaran yang bisa kupetik pada kisah hidupku dan hidup
mereka kali ini, bahwa pendidikan itu penting sis!
Sebagaimana
yang pernah kita dengar, “tuntutlah ilmu dari ayunan sampai keliang lahat”. Gak
kenal umur. Atau “tuntutlah ilmu sampai kenegeri cina”. Selagi masih sehat,
masih ada kesempatan, dan ada rezeki jangan malas untuk belajar ( cc adik-adik
5 mutiara hati yang ada di Lubas, tetap semangat belajar!). Aku pernah dengar “
Berilmu dulu baru beramal!”. Karena amalan tanpa ilmu tak ada gunanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar