Terkadang kita susah untuk meruntuhkan "ego" yang berrsemayam didalam diri.
Katamu kamu jera,
katamu kamu tak ingin lagi,
katamu kamu menyerah dan cukup sampai disini.
Tetapi ketika saudara punya ide, ternyata diam-diam kamu sepakat. Memang bukan melalui dia, tetapi karena dia kan?
Itu berarti kamu tidak benar-benar menolak saudaramu atau bahasa lainnya memutuskan tali silaturrahim. Ketahuilah hanya nafsu amarah yang engkau perturutkan. Coba istighfar barang sejenak saja dan renungkan kata-kata ini : "Astagfirullah 'azim, rabbi ternyata aku terlalu egois. Aku hanya memperturutkan hatiku. Tanpa melihat luka kecil dihati saudaraku yang kian lama kian melebar,"
Sejatinnya kita sesama muslim wajib untuk berhusnudzon (berprasangka baik) kepadanya. Walau seperti apapun ia sekarang bukan berarti itu mewakili penilaian selama hidupnya. Saudaramu juga manusia biasa, seperti halnya kamu, mereka, dan manusia lainnya didunia ini. Mungkin sekarang dia lagi butuh "teguranmu" bukan larimu darinya. Jika itu yang engkau lakukan itu sama saja kamu anggap kamu benar dan dia salah.
Ketika kamu melihat kesalahan pada saudaramu. Bagaimana rasanya ketika kamu masuk jurang tidak ada yang mengulurkan tangan?.
Maka dari itu ma'afkanlah kesalahannya dan hapusah dendam dihatimu karena kamu tidak selamanya benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar