Lebaran
2004
Pagi
ini aku siap-siap untuk mandi setelah suara takbir menggema diseluruh pelosok
kampung tercinta. Aku masih kelas 4 SD. Masih terlalu kecil. Tak sabar ingin
mengenakan baju lebaran yang dibelikan ibu 3 minggu yang lalu. Blus berwarna
biru plus celana roma irama. Kata ibu aku gak cantik pakai celana tapi lebih
cantik dan anggun dengan mengenakan rok. Tapi aku masih saja bersikeras tidak
mau memakai rok. Dengan terpaksa Ibu membelikannya untukku. Selesai mandi
kukenakan baju lebaran itu. Menari-nari didepan kaca bak primadona diatas
catlwalk. Ehem.
Setelah
miring kesana miring kesini plus pasang senyum terlebarku. Mumpung kakakku
sedang dikamar mandi, kupuaskan untuk berkaca ria. Cukup tiga puluh menit aku
didepan kaca. Kuperkirakan kakakku akan menuju kamar. Kutatap sekali lagi wajah
cantikku. Rasanya cukup. Kuraih mukena parasut berwarna cream diatas tempat
tidurku. Yang sudah kusetrika dari tadi malam lengkap dengan semprotan parfum
kakak yang aku ambil diam-diam. Sstt. Hmm harum.
Langkahku
terhenti oleh panggilan kaget dari kakakku. Kukira ngapain eh ternyata
memprotes bedak yang belum mendarat dipipiku. Aku gak mau pakai bedak. Ribet.
Tapi kakakku subhanallahu sekali hal yang sekecil itu diaduin sama Ibu. Jadi
dech Ibu yang sibuk mengurus Lontong untuk sarapan pagi ini ikut memprotes
penampilanku. Akhirnya dengan paksaan tertempelah bedak my baby di wajahku.
Dengan kesal kukenakan sepatu baruku. Setelah jauh dari rumah kuhapus bedak
tadi. Terdengar teriakkan kakakku lagi. Kali ini untuk sarapan pagi. Aku terus
saja berjalan sambil memangku mukenaku menyusuri jalan menuju rumah Nefri.
“ Perempuan itu lebih cantik memakai rok,
haram hukumnya seorang perempuan yang menyerupai laki-laki dan seorang
laki-laki menyerupai perempuan” kata Abo* Nefri setiap kali melihatku
memakai celana. Aku hanya manggut-manggut saja. Biar dikasih uang terakhirnya.
Uang lebaran.. Setiap lebaran Nefri selalu membeli rok bukan celana seperti
yang aku minta pada Ibu. Lagian celanaku kan gak pensil-pensil kali. Kata
sepupuku mirip celananya roma irama. Menurut aku gak apa-apa kok. Abo Nefri
yang ketinggalan zaman. Pikiranku selalu mencari-cari pembenaran atas
keadaanku.
***
2006
Waktu
terus berjalan begitu cepat. Bahkan potongan-potongan episode masa lalu hanya
tinggal sejarah yang menghantarkan aku menjadi seperti ini. Sekarang aku sudah
kelas 2 SMP. Nasehat Abo Nefri tentang rok berlalu begitu saja. Dihimpit oleh
pendapatku yang mengatakan rok itu ketinggalan zaman. Ya sampai sekarang sudah
diam saja.
Hari
ini hari sabtu jam 11:00 wib. Disekolahku biasanya jam segini ada mata
pelajaran pengembangan diri. Aku dan Icha teman sebangkuku segera menuju kelas
pengembangan diri Englih Club. Ya kami berdua sama-sama mengambil pengembangan
diri itu. Ini hari pertama kami bertemu dengan pembina yang baru yang
sebelumnya dibina oleh Mrs. Zafita. Kata Mrs. Zafita pembina kami akan diganti
dengan Miss Sisri. Hmm seperti apakah wajah pembina baruku ini? Cekidot! lima
belas menit berlalu masuklah seorang bidadari cantik yang jatuh dari syurga
dihadapanku. Ups lebay! Seorang guru cantik berjilbab lebar dan berkacamata itu
mengucap salam.
“
assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh! “ plus senyum manisnya. Duh!
cantik nian.
“
wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh! “ jawab kami serentak. Terkesima.
Tatkala
Miss Sisri memperkenalkan diri, pikirankupun melalang buana berusaha mencari
jati diri. Cantik. Seketika hati ini berucap. Ya Rabb aku ingin seperti ini.
Ayu, cantik, manis, lengkap deh. Ya Rabb Miss ini lulusan pesantren mana ya?
Andai aku seperti ini kira-kira atmosfer apa yang akan menimpa orang
sekelilingku. Seperti apakah tanggapan mereka. Ah! pasti cantik seperti Miss
Sisri. Kalau tadi sudah jatuh seorang bidadari cantik dari syurga, sebentar ini
menyusul jatuh pula seorang bidadari lagi yang lebih cantik dan pemalu dari
syurga. Yang gak liat rugi. Ya Rabb aku ingin jadi bidadari itu. Dirumah kucari
baju-baju lama berlengan panjang yang sudah masuk kekarung goni. Aku berhasil
mengumpulkan empat baju, satu rok guru dan dua rok biasa. Entah punya siapa.
Aku rasa cukup untuk merubah penampilanku menjadi seorang bidadari cantik.
Lebaran
tahun ini mendadak aku meminta dibelikan rok dan baju lengan panjang pada Ibu.
Yang ditanggapi Ibu dengan senyum dan anggukkan. Ibu setuju sekali atas
keinginanku tersebut. Dan ketika UUPA alias Undang-Undang Perlindungan Anak
dikeluarkan oleh presiden rumah tangga bahwa setiap keluar rumah apakah itu pergi
les, kepasar, dan pokoknya berjarak jauh dari rumah harus berpakaian sopan dan
memakai jilbab. Kalau tidak dilarang keluar. Herannya aku tidak menimbulkan
pertentangan sama sekali. Aku setuju-setuju saja. Bahkan tidak hanya pakaian
keluar rumah saja yang aku rubah pakaian dirumah pun mendadak berubah. Rok,
baju panjang plus jilbab selalu menemani keseharianku. Namun sayang sekali hal
yang terakhir ini hanya bertahan sebentar karna aku mendapat tanggapan yang
kurang mengenakkan dari tetangga depan rumah. Hanya sebuah tanggapan tak
berarti, begitu ringan, tapi mampu menciutkan niatku untuk menjadi bidadari.
Jadilah aksesoris bidadari itu aku pakai tiap kali keluar jauh dari rumah saja.
***
Agustus
2010
Ini
merupakan masa-masa pentransfermasianku dari SMA ke dunia perkuliahan. Sangat
berbeda sekali ternyata diperkuliahan. Terutama pergaulannya, kalau tidak bisa
jaga diri baik-baik mungkin sudah terperosok juga kedunia yang aku tidak tau
siapa aku, kemana tujuanku, dan untuk apa aku hidup. Disini tak ada lagi yang
namanya peraturan-peraturan seketat SMA dulu. Peraturan yang menjadi penghambat
langkah kemaksiatan. Namun bagi yang lalai tetap langkah kemaksiatan itu
beraksi. Mengatur dunia manusia.
Disini
aku bertemu dan bergabung dengan orang yang mirip dengan Miss Sisri. Mengikuti
kajian keislaman sebagai tempat penambahan, perefresan, dan mengulang-ulang
kembali ilmu yang sudah pernah singgah dimemori otakku. Subhanallahu... nyaman
sekali terasa jika berada disekeliling orang-orang yang selalu mengingat Allah.
Saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling mengingatkan dalam kesabaran.
Inikah hidayah itu? Aku menemukan wadahnya, tanpa segan akan orang sekeliling.
Sebenarnya kenapa harus malu ya? Kenapa nyaliku harus ciut untuk menunjukkan
muslimah itu harus seperti ini. Kita dalam kebaikan, sedangkan mereka diluar
sana terang-terangan melakukan kemaksiatan tanpa ada benang malu itu
dihiraukan. Teringat sebuah kalimat dari seorang ustadz.
“
Kebaikan yang tidak tersusun dengan rapi akan dikalahkan oleh kejahatan yang tersusun
dengan rapi “
***
Oktober
2012
Idul adha yang kunanti, kesempatan untuk
pulang kampung datang lagi tentunya. Birrulwalidain. Saatnya memberikan
perhatian untuk keluarga tercinta. Istirahat sebentar dari
kesibukkan-kesibukkan dikampus yang sangat menguras tenaga dan menuntut ruhul
istijabah yang subhanallahu luar biasa. Walaupun memang terbukti lelah dan
letih dibadan tapi senyum itu masih sanggup singgah dihati. Suatu kebahagian
tersendiri yang diberikan Allah pada orang-orang yang berada dijalan cahaya
ini.
Namun
sayang sekali moment indah kali ini kulewati hanya ditempat tidur. Tiga hari
sebelum aku pulang kampung, aku sakit. Ingin rasanya menolong Ibu. Sekedar
bantu-bantu didapur, tapi melihat keadaanku Ibu malah menyarankan agar aku
istirahat saja. Ingin sekali aku menjenguk Abo Nefri yang sudah tua dirumahnya.
Dan juga teman kecilku dulu, Nefri. Tapi untuk pergi ke teras rumah saja, badan
ini begitu berat. Bagaimana kabarnya ya? Apa dia sudah disini untuk menjenguk
Abo. Seperti yang selalu ia lakukan tiap kali lebaran datang. Berdasarkan
informasi yang aku dengar dari keluargaku, Abo Nefri sudah tidak bisa lagi
jalan-jalan berkunjung kerumah tetangga. Rumahku salah satu rumah faforit yang
beliau kunjungi. Aku ingin mengatakan pada beliau. Aku sudah pakai rok. Aku
hanya bisa memicingkan mata membayangkan aku sudah berada disamping Abo nefri
dan bercerita padanya.
“
Annii..!” terdengar suara yang sudah familiar dikupingku. Nefri. Ya dia datang
menjengukku. Setelah menunggu kedatanganku dirumah Abo. Aku ingin melihat rok
itu berkibar lagi. Tapi apa yang aku lihat? kecewa. Semenjak aku jauh darinya
dan juga jauh dari Abo, semenjak kepindahannya ketempat kedua orangtuanya. Yach
semenjak itulah asesoris bidadari itu luput dari tubuhnya. Kemana Nefri yang
selalu mengenakan asesoris bidadari itu? Dia datang dengan baju ayu
ting-tingnya yang berwarna biru, celana super pensilnya, dan alhamdulilah masih
dengan jilbab yang tertonggok diatas kepalanya. Meskipun jilbab itu hanya dapat
tugas untuk membungkus kepalanya. Meskipun bukan untuk menutupi dan melindungi
auratnya. Meskipun tidak seperti jilbab putih yang selalu ia kenakan dulu. Tapi
alhamdulillah masih berjilbab.
Teringat
kata-kata mutiara dari seorang kakak “ Dek, hidayah itu bertebaran dimana-mana.
Menunggu kita menjemput dan menghampirinya. Dan Allah telah memilih siapa-siapa
yang Ia kehendaki untuk memeluk hidayah itu dan menjaganya agar tidak pergi
jauh “.
Ternyata
Allah punya skenario lain untukku dan Nefri. Ya Rabb semoga hati ini selalu
istiqomah dijalan cahaya ini. Amin.
***
Padang,
November 2013
*Abo; Kakek