Melukis Pelangi

Melukis Pelangi

Sabtu, 28 Desember 2013

Surat Cinta Untuk Ibunda

Padang, 17 Desember 2013

Assalamu’alaikum, Bidadariku nan jelita.
            Dari sudut kamar kosku nan hening, kuketik bait-bait rindu untukmu wahai bidadari nan kurindu. Tiada perumpamaan yang layak kusandangkan dipundak kokohmu. Semua tak bisa menggambarkan betapa luar biasanya dirimu wahai bidadari nan jelita. Kala pagi menjelang, engkau sudah siap siaga berjuang didapur reot itu. Memasak untuk kami. Membuat sesuatu yang semula biasa menjadi luarbiasa dilidah kami. Kala siang memanggil, engkau telah siap untuk mendampingi Ayahku bekerja. Hanya untuk menemani beliau. Entah kenapa aku juga tidak tahu apa alasan Ayah. Jika engkau tak menemani, Ayah tidak mau kerja. Oh luar biasa romantisnya beliau berdua. Romantisme yang tidak pernah diumbar dengan kata-kata. Dan kala malam menjemput, engkau sibuk memikirkan kami. Sehingga semula waktu tidurmu 8 jam menjadi 3 jam. Semua waktumu tersita hanya untuk memikirkan kami. Semua waktumu engkau wakafkan atas nama cintamu kepada kami.
            Ibu engkau bagaikan matahari terang yang membakar dan menerangi jalan kami, para ‘7 Mutiara Hati’. Sebuah nama yang sudah kami sahkan, menjadi satu nama diatas kami bertujuh. Masih lekat dimemoriku dikala aku mulai pesimis untuk melanjutkan pendidikan ini ketingkat perguruan tinggi. Karena memang aku tidak ingin membuatmu lebih keras lagi berfikir tentang aku. Aku ingin mandiri dengan bekerja dan membantumu walau sedikit. Tetapi engkau selalu membisikkan dan membakar semangatku, untuk terus melanjutkan perjuangan agar lulus menjadi mahasiswa undangan disebuah Universitas yang aku geluti sekarang. Sungguh suatu hal yang luarbiasa bagiku. Karena tidak ada orangtua dikampung kita selain dirimu yang melakukan itu.
            “Ngapain perempuan sekolah tinggi-tinggi? Toh nantinya kedapur  juga. Sudahlah, kamu sudah luar biasa  menyekolahkan mereka sampai tingkat SMK. Sudahlah, akhiri saja. Mereka juga bisa bekerja dan menghasilkan uang untukmu nantinya. Tidak usah capek-capek. Kamu mau menghabiskan masa mudamu hanya untuk memikirkan mereka?”
            “Tidak tahu diuntung! Sudah miskin, bercita-cita setinggi langit pula. Elok-elok tacabuak mato, mancaliak tu  jan ka ateh !.”
            Pahit. Sakit. Dan aku tidak ingin mendengarkan itu ibu. Tetapi melihat semangatmu membuat aku malu. Disaat sebagian teman-temanmu mematahkan semangatmu memperjuangkan kami untuk terus mengejar ilmu itu. Engkau malah bertambah semangat. Tidak mudah memang. Berjuang diatas ketidakpunyaan. Ya, aku tahu dan menyadari kita bukanlah sebuah keluarga yang serba berkecukupan. Tetapi aku yakin tidak semua keluarga yang memiliki warna indah dikeluarga kita itu, bu. Sebuah warna tersendiri yang engkau ciptakan bersama Ayah. Sebuah warna yang sampai kapanpun tidak akan ada warna seindah itu. Bahkan mengalahkan indahnya warna pelangi.
            Ma’afkan aku ibu, jika aku dan saudaraku yang lain tidak bisa membalas jasamu. Jika aku dan saudaraku seringkali membuat air matamu menganak sungai dipipi sendumu. Jika aku dan saudaraku membuat semua keinginanmu terhambat karena mendahulukan keinginan kami. Jika aku dan saudaraku membuatmu meninggalkan tidur nyenyakmu disuatu malam nan dingin. Banyak lagi yang aku dan saudaraku perbuat dan itu membuatmu mendahulukan kami diatas kepentingan pribadimu. Jika menguak kenangan itu semakin membuat aku tak berdaya dihadapanmu wahai ibu.
            “Aku punya ibu, maka aku berani dan kuat. Jika dunia terasa sempit, dalam dekapan ibuku hidup terasa luas. Dan jika kehidupan membuatku lelah, di sisi ibuku aku merasakan kehangatan,  semangat, dan optimisme.” (Syaikh Ahmad Al Munsi).
Jika Indonesia mengabadikan Cut Nyak Dien dilembaran catatan sejarah perjuangannya. Maka aku akan mengabadikanmu dilembaran catatan hatiku. Kugoreskan dengan tinta emas namamu wahai bidadariku. Agar ia berkilauan dihatiku. Karena memang engkaulah pahlawan tangguhku. Aku mencintaimu karena Allah wahai ibuku.


 

 
Love,

Mutiara hatimu



Tidak ada komentar:

Posting Komentar