Padang,
17 Desember 2013
Assalamu’alaikum,
Bidadariku nan jelita.
Dari sudut kamar kosku nan hening,
kuketik bait-bait rindu untukmu wahai bidadari nan kurindu. Tiada perumpamaan
yang layak kusandangkan dipundak kokohmu. Semua tak bisa menggambarkan betapa
luar biasanya dirimu wahai bidadari nan jelita. Kala pagi menjelang, engkau
sudah siap siaga berjuang didapur reot itu. Memasak untuk kami. Membuat sesuatu
yang semula biasa menjadi luarbiasa dilidah kami. Kala siang memanggil, engkau
telah siap untuk mendampingi Ayahku bekerja. Hanya untuk menemani beliau. Entah
kenapa aku juga tidak tahu apa alasan Ayah. Jika engkau tak menemani, Ayah
tidak mau kerja. Oh luar biasa romantisnya beliau berdua. Romantisme yang tidak
pernah diumbar dengan kata-kata. Dan kala malam menjemput, engkau sibuk
memikirkan kami. Sehingga semula waktu tidurmu 8 jam menjadi 3 jam. Semua
waktumu tersita hanya untuk memikirkan kami. Semua waktumu engkau wakafkan atas
nama cintamu kepada kami.
Ibu engkau bagaikan matahari terang
yang membakar dan menerangi jalan kami, para ‘7 Mutiara Hati’. Sebuah nama yang
sudah kami sahkan, menjadi satu nama diatas kami bertujuh. Masih lekat
dimemoriku dikala aku mulai pesimis untuk melanjutkan pendidikan ini ketingkat
perguruan tinggi. Karena memang aku tidak ingin membuatmu lebih keras lagi
berfikir tentang aku. Aku ingin mandiri dengan bekerja dan membantumu walau
sedikit. Tetapi engkau selalu membisikkan dan membakar semangatku, untuk terus
melanjutkan perjuangan agar lulus menjadi mahasiswa undangan disebuah
Universitas yang aku geluti sekarang. Sungguh suatu hal yang luarbiasa bagiku.
Karena tidak ada orangtua dikampung kita selain dirimu yang melakukan itu.
“Ngapain perempuan sekolah
tinggi-tinggi? Toh nantinya kedapur juga. Sudahlah, kamu sudah luar biasa menyekolahkan mereka sampai tingkat SMK.
Sudahlah, akhiri saja. Mereka juga bisa bekerja dan menghasilkan uang untukmu
nantinya. Tidak usah capek-capek. Kamu mau menghabiskan masa mudamu hanya untuk
memikirkan mereka?”
“Tidak tahu diuntung! Sudah miskin,
bercita-cita setinggi langit pula. Elok-elok
tacabuak mato, mancaliak tu jan ka ateh
!.”
Pahit. Sakit. Dan aku tidak ingin
mendengarkan itu ibu. Tetapi melihat semangatmu membuat aku malu. Disaat
sebagian teman-temanmu mematahkan semangatmu memperjuangkan kami untuk terus
mengejar ilmu itu. Engkau malah bertambah semangat. Tidak mudah memang.
Berjuang diatas ketidakpunyaan. Ya, aku tahu dan menyadari kita bukanlah sebuah
keluarga yang serba berkecukupan. Tetapi aku yakin tidak semua keluarga yang
memiliki warna indah dikeluarga kita itu, bu. Sebuah warna tersendiri yang engkau
ciptakan bersama Ayah. Sebuah warna yang sampai kapanpun tidak akan ada warna
seindah itu. Bahkan mengalahkan indahnya warna pelangi.
Ma’afkan aku ibu, jika aku dan
saudaraku yang lain tidak bisa membalas jasamu. Jika aku dan saudaraku
seringkali membuat air matamu menganak sungai dipipi sendumu. Jika aku dan
saudaraku membuat semua keinginanmu terhambat karena mendahulukan keinginan
kami. Jika aku dan saudaraku membuatmu meninggalkan tidur nyenyakmu disuatu
malam nan dingin. Banyak lagi yang aku dan saudaraku perbuat dan itu membuatmu
mendahulukan kami diatas kepentingan pribadimu. Jika menguak kenangan itu
semakin membuat aku tak berdaya dihadapanmu wahai ibu.
“Aku punya ibu, maka aku berani dan
kuat. Jika dunia terasa sempit, dalam dekapan ibuku hidup terasa luas. Dan jika
kehidupan membuatku lelah, di sisi ibuku aku merasakan kehangatan, semangat, dan optimisme.” (Syaikh Ahmad Al
Munsi).
Jika Indonesia mengabadikan Cut Nyak Dien dilembaran
catatan sejarah perjuangannya. Maka aku akan mengabadikanmu dilembaran catatan hatiku.
Kugoreskan dengan tinta emas namamu wahai bidadariku. Agar ia berkilauan
dihatiku. Karena memang engkaulah pahlawan tangguhku. Aku mencintaimu karena
Allah wahai ibuku.
Love,
Mutiara hatimu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar