Melukis Pelangi

Melukis Pelangi

Sabtu, 28 Desember 2013

Accecories Bidadari


Lebaran 2004
Pagi ini aku siap-siap untuk mandi setelah suara takbir menggema diseluruh pelosok kampung tercinta. Aku masih kelas 4 SD. Masih terlalu kecil. Tak sabar ingin mengenakan baju lebaran yang dibelikan ibu 3 minggu yang lalu. Blus berwarna biru plus celana roma irama. Kata ibu aku gak cantik pakai celana tapi lebih cantik dan anggun dengan mengenakan rok. Tapi aku masih saja bersikeras tidak mau memakai rok. Dengan terpaksa Ibu membelikannya untukku. Selesai mandi kukenakan baju lebaran itu. Menari-nari didepan kaca bak primadona diatas catlwalk. Ehem.
Setelah miring kesana miring kesini plus pasang senyum terlebarku. Mumpung kakakku sedang dikamar mandi, kupuaskan untuk berkaca ria. Cukup tiga puluh menit aku didepan kaca. Kuperkirakan kakakku akan menuju kamar. Kutatap sekali lagi wajah cantikku. Rasanya cukup. Kuraih mukena parasut berwarna cream diatas tempat tidurku. Yang sudah kusetrika dari tadi malam lengkap dengan semprotan parfum kakak yang aku ambil diam-diam. Sstt. Hmm harum.
Langkahku terhenti oleh panggilan kaget dari kakakku. Kukira ngapain eh ternyata memprotes bedak yang belum mendarat dipipiku. Aku gak mau pakai bedak. Ribet. Tapi kakakku subhanallahu sekali hal yang sekecil itu diaduin sama Ibu. Jadi dech Ibu yang sibuk mengurus Lontong untuk sarapan pagi ini ikut memprotes penampilanku. Akhirnya dengan paksaan tertempelah bedak my baby di wajahku. Dengan kesal kukenakan sepatu baruku. Setelah jauh dari rumah kuhapus bedak tadi. Terdengar teriakkan kakakku lagi. Kali ini untuk sarapan pagi. Aku terus saja berjalan sambil memangku mukenaku menyusuri jalan menuju rumah Nefri.
 “ Perempuan itu lebih cantik memakai rok, haram hukumnya seorang perempuan yang menyerupai laki-laki dan seorang laki-laki menyerupai perempuan” kata Abo* Nefri setiap kali melihatku memakai celana. Aku hanya manggut-manggut saja. Biar dikasih uang terakhirnya. Uang lebaran.. Setiap lebaran Nefri selalu membeli rok bukan celana seperti yang aku minta pada Ibu. Lagian celanaku kan gak pensil-pensil kali. Kata sepupuku mirip celananya roma irama. Menurut aku gak apa-apa kok. Abo Nefri yang ketinggalan zaman. Pikiranku selalu mencari-cari pembenaran atas keadaanku.
***
2006
Waktu terus berjalan begitu cepat. Bahkan potongan-potongan episode masa lalu hanya tinggal sejarah yang menghantarkan aku menjadi seperti ini. Sekarang aku sudah kelas 2 SMP. Nasehat Abo Nefri tentang rok berlalu begitu saja. Dihimpit oleh pendapatku yang mengatakan rok itu ketinggalan zaman. Ya sampai sekarang sudah diam saja.
Hari ini hari sabtu jam 11:00 wib. Disekolahku biasanya jam segini ada mata pelajaran pengembangan diri. Aku dan Icha teman sebangkuku segera menuju kelas pengembangan diri Englih Club. Ya kami berdua sama-sama mengambil pengembangan diri itu. Ini hari pertama kami bertemu dengan pembina yang baru yang sebelumnya dibina oleh Mrs. Zafita. Kata Mrs. Zafita pembina kami akan diganti dengan Miss Sisri. Hmm seperti apakah wajah pembina baruku ini? Cekidot! lima belas menit berlalu masuklah seorang bidadari cantik yang jatuh dari syurga dihadapanku. Ups lebay! Seorang guru cantik berjilbab lebar dan berkacamata itu mengucap salam.
“ assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh! “ plus senyum manisnya. Duh! cantik nian.
“ wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh! “ jawab kami serentak. Terkesima.
Tatkala Miss Sisri memperkenalkan diri, pikirankupun melalang buana berusaha mencari jati diri. Cantik. Seketika hati ini berucap. Ya Rabb aku ingin seperti ini. Ayu, cantik, manis, lengkap deh. Ya Rabb Miss ini lulusan pesantren mana ya? Andai aku seperti ini kira-kira atmosfer apa yang akan menimpa orang sekelilingku. Seperti apakah tanggapan mereka. Ah! pasti cantik seperti Miss Sisri. Kalau tadi sudah jatuh seorang bidadari cantik dari syurga, sebentar ini menyusul jatuh pula seorang bidadari lagi yang lebih cantik dan pemalu dari syurga. Yang gak liat rugi. Ya Rabb aku ingin jadi bidadari itu. Dirumah kucari baju-baju lama berlengan panjang yang sudah masuk kekarung goni. Aku berhasil mengumpulkan empat baju, satu rok guru dan dua rok biasa. Entah punya siapa. Aku rasa cukup untuk merubah penampilanku menjadi seorang bidadari cantik.
Lebaran tahun ini mendadak aku meminta dibelikan rok dan baju lengan panjang pada Ibu. Yang ditanggapi Ibu dengan senyum dan anggukkan. Ibu setuju sekali atas keinginanku tersebut. Dan ketika UUPA alias Undang-Undang Perlindungan Anak dikeluarkan oleh presiden rumah tangga bahwa setiap keluar rumah apakah itu pergi les, kepasar, dan pokoknya berjarak jauh dari rumah harus berpakaian sopan dan memakai jilbab. Kalau tidak dilarang keluar. Herannya aku tidak menimbulkan pertentangan sama sekali. Aku setuju-setuju saja. Bahkan tidak hanya pakaian keluar rumah saja yang aku rubah pakaian dirumah pun mendadak berubah. Rok, baju panjang plus jilbab selalu menemani keseharianku. Namun sayang sekali hal yang terakhir ini hanya bertahan sebentar karna aku mendapat tanggapan yang kurang mengenakkan dari tetangga depan rumah. Hanya sebuah tanggapan tak berarti, begitu ringan, tapi mampu menciutkan niatku untuk menjadi bidadari. Jadilah aksesoris bidadari itu aku pakai tiap kali keluar jauh dari rumah saja.
***
Agustus 2010
Ini merupakan masa-masa pentransfermasianku dari SMA ke dunia perkuliahan. Sangat berbeda sekali ternyata diperkuliahan. Terutama pergaulannya, kalau tidak bisa jaga diri baik-baik mungkin sudah terperosok juga kedunia yang aku tidak tau siapa aku, kemana tujuanku, dan untuk apa aku hidup. Disini tak ada lagi yang namanya peraturan-peraturan seketat SMA dulu. Peraturan yang menjadi penghambat langkah kemaksiatan. Namun bagi yang lalai tetap langkah kemaksiatan itu beraksi. Mengatur dunia manusia.
Disini aku bertemu dan bergabung dengan orang yang mirip dengan Miss Sisri. Mengikuti kajian keislaman sebagai tempat penambahan, perefresan, dan mengulang-ulang kembali ilmu yang sudah pernah singgah dimemori otakku. Subhanallahu... nyaman sekali terasa jika berada disekeliling orang-orang yang selalu mengingat Allah. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling mengingatkan dalam kesabaran. Inikah hidayah itu? Aku menemukan wadahnya, tanpa segan akan orang sekeliling. Sebenarnya kenapa harus malu ya? Kenapa nyaliku harus ciut untuk menunjukkan muslimah itu harus seperti ini. Kita dalam kebaikan, sedangkan mereka diluar sana terang-terangan melakukan kemaksiatan tanpa ada benang malu itu dihiraukan. Teringat sebuah kalimat dari seorang ustadz.
“ Kebaikan yang tidak tersusun dengan rapi akan dikalahkan oleh kejahatan yang tersusun dengan rapi “
***
Oktober 2012
 Idul adha yang kunanti, kesempatan untuk pulang kampung datang lagi tentunya. Birrulwalidain. Saatnya memberikan perhatian untuk keluarga tercinta. Istirahat sebentar dari kesibukkan-kesibukkan dikampus yang sangat menguras tenaga dan menuntut ruhul istijabah yang subhanallahu luar biasa. Walaupun memang terbukti lelah dan letih dibadan tapi senyum itu masih sanggup singgah dihati. Suatu kebahagian tersendiri yang diberikan Allah pada orang-orang yang berada dijalan cahaya ini.
Namun sayang sekali moment indah kali ini kulewati hanya ditempat tidur. Tiga hari sebelum aku pulang kampung, aku sakit. Ingin rasanya menolong Ibu. Sekedar bantu-bantu didapur, tapi melihat keadaanku Ibu malah menyarankan agar aku istirahat saja. Ingin sekali aku menjenguk Abo Nefri yang sudah tua dirumahnya. Dan juga teman kecilku dulu, Nefri. Tapi untuk pergi ke teras rumah saja, badan ini begitu berat. Bagaimana kabarnya ya? Apa dia sudah disini untuk menjenguk Abo. Seperti yang selalu ia lakukan tiap kali lebaran datang. Berdasarkan informasi yang aku dengar dari keluargaku, Abo Nefri sudah tidak bisa lagi jalan-jalan berkunjung kerumah tetangga. Rumahku salah satu rumah faforit yang beliau kunjungi. Aku ingin mengatakan pada beliau. Aku sudah pakai rok. Aku hanya bisa memicingkan mata membayangkan aku sudah berada disamping Abo nefri dan bercerita padanya.
“ Annii..!” terdengar suara yang sudah familiar dikupingku. Nefri. Ya dia datang menjengukku. Setelah menunggu kedatanganku dirumah Abo. Aku ingin melihat rok itu berkibar lagi. Tapi apa yang aku lihat? kecewa. Semenjak aku jauh darinya dan juga jauh dari Abo, semenjak kepindahannya ketempat kedua orangtuanya. Yach semenjak itulah asesoris bidadari itu luput dari tubuhnya. Kemana Nefri yang selalu mengenakan asesoris bidadari itu? Dia datang dengan baju ayu ting-tingnya yang berwarna biru, celana super pensilnya, dan alhamdulilah masih dengan jilbab yang tertonggok diatas kepalanya. Meskipun jilbab itu hanya dapat tugas untuk membungkus kepalanya. Meskipun bukan untuk menutupi dan melindungi auratnya. Meskipun tidak seperti jilbab putih yang selalu ia kenakan dulu. Tapi alhamdulillah masih berjilbab.
Teringat kata-kata mutiara dari seorang kakak “ Dek, hidayah itu bertebaran dimana-mana. Menunggu kita menjemput dan menghampirinya. Dan Allah telah memilih siapa-siapa yang Ia kehendaki untuk memeluk hidayah itu dan menjaganya agar tidak pergi jauh “.
Ternyata Allah punya skenario lain untukku dan Nefri. Ya Rabb semoga hati ini selalu istiqomah dijalan cahaya ini. Amin.
***
Padang, November 2013
*Abo; Kakek

Tidak ada komentar:

Posting Komentar