Sahabat,
pernahkah berfikir bahwa kita banyak sekali menyakiti hati saudara kita yang
lain. Mungkin saja kemarin, dua hari lalu, satu minggu ini, atau beberapa bulan
yang lalu. Baik itu tanpa sadar atau tidak bermaksud seperti itu. Hati yang telah
disakiti akan sulit untuk dipulihkan kembali. Jika diibaratkan pada sebuah paku
yang tertancap dikayu. Walaupun pakunya sudah diangkat, namun bekas lobang
karena tertancap paku itu akan tetap ada.
Teringat seorang adek yang secara tidak
sengaja menyampaikan padaku kejadian beberapa bulan yang lalu.
“
afwan kak, aku tidak menyangka aja kalau jawaban kakak seperti itu… “ ucapnya
takut-takut. Masih dengan senyuman.
Aku
mengernyitkan kening. Yang mana? Aku kembali membuka lembaran beberapa bulan
lalu. Mencoba mengingat-ingat kembali apa yang aku lakukan saat itu. Aku baru
ingat kalau saat itu aku menjawab seperti ini “afwan dek.. jangan kakak ya
dek.. bla bla bla” ketika ia meminta bantuan padaku. Aku tidak menyangka kalau
jawaban itu membuat ia terluka (afwan ya dek..). Karena didalam fikirannya
seorang kakak itu harusnya seperti ini loh.. (kak juga manusia biasa dek..).
saat itu aku sibuk dengan masalah yang aku hadapi. Rasanya sulit sekali. Sampai
aku bingung harus berbuat apa. Fikiranku jauh menerawang sampai menembus
bangunan sidang senat yang ada didepanku. Dan tanpa sadar ternyata adek itu
terluka karenaku.
Astagfirullahal
azhim… (-_-)
Mungkin
saja kita terlalu cuek dan tidak memikirkan perasaan saudara kita. Rasanya satu
hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan. Sesampainya dirumah langsung
berbaring ditempat tidur sambil tersenyum dan berucap “indahnya hari ini”.
Ups.. coba diulang-ulang kembali. Dari awal bangun tidur tadi sampai detik ini
ngapain aja? Mungkin saja kita lupa menanyakan kabar saudara kita, atau sekedar
say hello, atau karena terlalu sibuk kita lupa memberikan senyuman terindah
kita kepada saudara yang padahal sudah siap-siap untuk tersenyum ketika
berpapasan dengan kita.
Mungkin
saja tadi pagi kita lupa mengucap salam ketika mau berangkat kuliah. Tadi pagi
ketika menaiki tangga menuju kelas kita lupa menyapa atau pun tersenyum kepada
ibu-ibu yang sedang membersihkan tangga yang kita lewati. Ketika berpapasan di
tangga tadi kita bermuka masam ketika teman kita menghadiah senyuman
terindahnya pagi itu. Atau ketika berbicara dikelas tadi ternyata kita melukai
hati teman kita.
Kita
tanpa sadar ternyata seringkali menuntut seorang kakak harusnya seperti ini dan
seperti itu. Sampai kita menjabarkan kewajiban seorang kakak beberapa sks. Kita
tidak mau tahu hatinya seperti apa? Kesibukkannya apa? Tidak peduli apa yang
sudah ia lakukan yang penting hari ini dan selanjutnya harus seperti ini!
Astagfirullah.. sadarkah kita bahwa semua itu akan kembali kepada kita. Apa
yang kita tuntut itu kembali akan menuntut kita.
Apakah
kita tidak akan menjadi seorang kakak juga?
Hal
itu bisa saja terjadi. Karena memang kita tidak tahu kapan kita melukai.
Na’udzubillah..
Kemudian kita sibuk mencari pembenaran atas kesalahan kita. Menciptakan beribu pintu
ma’af untuk menghilangkan kesalahan itu.
istigfar bareng yuk.. setiap diri kita tidak akan luput dari itu semua.
Karena memang tiada manusia yang sempurna. Mari mulai perbaiki diri, mari raih
Ridha Allah SWT… ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar